Mei

Pening belum habis. Apa yang ada di kepala lebih berat dari kemarin. Air mata belum juga kering.

Tapi, aku tiba pada akhir bagian cerita. Ketika aku memutuskan percaya pada seseorang dan turut menghadapi badai-badai hidupnya sebagai risiko kepercayaan itu, namun ketika aku menyatakan diri untuk ada, aku tak diizinkan untuk menyentuh lebih jauh inti kehidupannya.

Begitu cepat rasanya. Aku menjadi seseorang yang dalam sekali waktu menelanjangi kehidupan di balik dunianya yang selama ini kutahu. Jalanan, perjuangan, kemanusiaan. Pun begitu cepat pula, ia memangkasnya.

Terlalu cepat rasanya. Aku belum lagi bisa menerima.

Terlalu cepat.

Pikiranku belum bisa mencerna. Perasaanku belum reda.

"Kita hadapi berdua" kini tanpa makna.

Terlalu cepat.

Tulungagung, 9 Mei 2018
05.04

Comments

Popular Posts