Kuingin marah

Rasanya kesal sampai tidak tahu lagi harus bagaimana dan melampiaskannya pada apa atau siapa. Seolah semua orang sedang berkonspirasi untuk tidak memahami apa yang kuinginkan.

Rencana liburan akhir tahun terpaksa harus dibatalkan karena kecelakaan. Dengan berbesar hati, kami membatalkan semuanya dan memilih untuk menghabiskan akhir tahun di tempat kami masing-masing. Ada sedikit kekecewaan meski hal itu bisa kami atasi. Lebih tepatnya, kami berusaha tak terlalu meratapi.

Mendekati hari terakhir di tahun kemarin, kami mendapat kabar bahwa harus melakukan operasi untuk memasang gips. Baiklah, hidup memang rencana-rencana yang kita susun rapi tapi bisa begitu saja porak-poranda.

Pagi hari di awal tahun kami buka dengan debar menunggu jadwal operasi. Meskipun tidak membutuhkan waktu lama, tapi tetap saja sebuah operasi tidak bisa dianggap sepele. Aku, yang hanya bisa menunggu dan memantau dari jarak amat jauh, merasa menjadi orang yang amat menyedihkan. Bagaimana mungkin kamu berada sangat jauh dari pasanganmu yang sedang berjuang untuk sembuh? Jangan tanya bagaimana kesedihan merundungku akhir-akhir ini. Kami tidak saling membahas kesedihan, tapi aku yakin, dia pun sedikit merasa kecewa.

Belum selesai kelegaanku karena operasi yang lancar dan bisa segera dirawat di rumah, malam harinya aku harus menghadapi penolakan kedatangan oleh laki-laki yang tangannya patah ini. Atap rumahnya bocor dan beberapa gentengnya melorot menandakan harus diperbaiki. Katanya membutuhkan waktu seminggu. Aku, yang sudah menyiapkan tiket untuk menempuh jarak 764 km, harus menelan kecewa karena mendapat jawaban "Lain kali saja."

Ingin marah, tapi pada siapa? Aku kumpulkan sajalah kesedihan bercampur kecewa dan marah ini. Siapa tahu bisa ditukar poin buat beli tiket lagi.

Comments

Popular Posts