Kau
Aku tak mau terlalu menggantung percaya pada lonceng-lonceng waktu yang habis kita lahap bersama. Penanda hanya menggarisi darimana awalnya. Tapi titik akhir belum kita jumpa.
Bukan enggan, hanya sedang memupuk kepercayaan. Kecewa tak pernah memberi aba-aba. Maka hanya diri yang mampu membuka mata, hati dan telinga. Kamu bukan orang lain, kita baru menjalin.
Kuminta sabarmu atas semua lakuku. Bocah penuh tantrum dan manja.
Abaikan jika aku memuakkan.
Tapi, kuharap kau tinggal, bukan lagi pergi. Mari bicara dan bercanda, agar luka dan duka tak bertahan lama.
Duduklah di sampingku dan ajari aku cara menertawakan dunia. Agar hidup tak hanya tentang kau dan aku saja. Kucing di pagar, izinkan ia hadir dalam pangkuan. Biar kubelai bulunya saat rambutku kau mainkan.
Kau suka mengintip isi kepalaku dan menambahnya dengan milikmu. Aku lebih suka menyelami laut matamu tapi tak tenggelam. Lalu dalam kecup pada kening, ada hangat yang kau daratkan. Pada luka yang masih menganga, kau bersedia menjadi penawarnya.
Kau,
Terima kasih telah memberi nyaman sekaligus aman.
Di dadamu, ada debar paling betah kudengar.
Di tiap detaknya
Aku ingin tinggal.
Aku,
Ada enggan dalam langkah kepergian.
Izinkan aku kembali pulang.
Menuju genggam tangan dan pelukan
Mu.
Saturnus, 14 Mei 2018
Comments
Post a Comment