Bulan Hilang Sabit
Akhir-akhir ini malam-malam seorang perempuan terasa berbeda. Meski langitnya tetap gelap, awannya tetap lekat dan dinginnya tetap menusuk. Namun, ketika si perempuan menoleh ke hamparan biru kehitaman itu, ia tahu malam-malamnya kini tak lagi sama.
Jauh sebelum malam ini, perempuan itu pernah melewatkan malam bersama kopi, obrolan panjang dan seseorang -yang setelah malam itu, mengisi malam-malamnya selanjutnya. Malam yang biasa, hanya dukacita dalam dada si perempuan yang menjadikan berbeda. Perempuan itu mengingat setiap rinci obrolan bersama seseorang di hadapannya. Tentang hidup, tentang perjalanan.
Malam-malam setelah malam itu, tak ada sepi tergambar di langit si perempuan. Yang ada di langitnya hanya bintang-bintang yang berkumpul, penuh canda tawa. Sesekali bintang kecil muncul dan membuat kesal para bintang lain, juga si perempuan. Meski perempuan itu tersenyum karena kelakuan bintang-bintang, ia tahu, malamnya tak lagi sama.
Di sudut langit yang lain, tanpa perempuan itu sadari, seseorang yang membuat malam harinya tak lagi berisi hanya gelap, kesedihan dan kesendirian, tersenyum.
Senyum keemasan yang terlalu sabit hingga bulan, sahabat malam perempuan itu, kehilangan lengkungnya.
Saturnus, 19 April 2018.
Comments
Post a Comment